Sunday, March 25, 2012

Tiga kali melanggar peraturan, penggal!

  • Tiga kali melanggar peraturan, penggal!


    Salah satu kisah yang sangat terkenal tentang Sun Zi (Sun Tzu), ahli strategi terkenal Cina kuno, adalah tentang keputusannya memenggal selir-selir kesayangan Raja Wu Helu. Bagi yang belum pernah membaca, kira-kira begini cerita ringkasnya:
    Sun Zi diundang oleh Raja Wu Helu untuk membuktikan kemampuannya dalam memimpin militer. Raja meminta Sun Zi membentuk batalyon militer yang terdiri dari semua perempuan istana. Batalyon tersebut dipimpin oleh dua selir kesayangan raja.
    Saat latihan militer, Sun Zi memberikan komando untuk mengatur barisan. Ternyata komando Sun Zi disambut dengan tawa cekikikan dari pasukan perempuan ini. Sun Zi kemudian berkata: “Perintah pertama yang tidak bisa direspon oleh pasukan adalah kesalahan komandan. Oleh sebab itu komandan harus menjelaskan kepada pasukan”. Lalu Sun Zi pun menjelaskan arti dari perintahnya pada seluruh pasukan untuk memastikan mereka paham.
    Lalu Sun Zi mengulang perintahnya kembali untuk kedua kalinya. Kali ini pun, ternyata dia mendapat respon yang sama, yaitu tawa cekikikan. Sun Zi lalu berkata, ” Apabila kali kedua komando diberikan, pasukan gagal merespon dengan tepat, maka ada dua kemungkinan. Pertama, perintah komandan masih kurang jelas, atau kedua, pasukan tidak patuh”.
    Sun Zi kemudian menanyai kedua selir yang menjadi pimpinan pasukan. Ternyata mereka mengatakan bahwa komando Sun Zi sudah bisa dipahami. Maka Sun Zi berkata, ” Apabila demikian, maka komando yang kuberikan harus dipatuhi. Apabila tidak, maka itu pelanggaran hukum. Jadi kali ketiga ini, aku ingin semua bisa melaksanakan dengan baik”. Lalu Sun Zi memberikan perintah yang sama untuk ketiga kalinya.
    Kali ini, kedua selir pemimpin pasukan tetap tertawa cekikikan. Tanpa banyak bicara, Sun Zi memerintahkan algojo untuk memenggal kedua selir tersebut, dan menunjuk pemimpin pasukan baru. Sesudah itu, tak satupun pasukan perempuan yang berani tidak patuh pada perintah Sun Zi, dan pasukan dapat digerakkan sesuai komando.
    Raja Wu Helu sangat marah karena kehilangan kedua selirnya, dan ingin memenggal Sun Zi. Tapi dengan tegas Sun Zi berkata, “Yang Mulia, saya sudah melaksanakan amanat Yang Mulia untuk membentuk pasukan militer yang bagus. Kedua selir sebagai pemimpin pasukan tidak patuh pada perintah saya sebagai panglima pengemban amanat yang Mulia. Perbuatan mereka telah melecehkan hukum militer dan perintah Yang Mulia untuk membangun pasukan ini. Mereka telah merusak moral pasukan, dan saya harus menegakkan hukum. Yang Mulia telah menyerahkan amanat pada saya sebagai penguasa militer, jadi Yang Mulia tidak bisa membatalkan keputusan saya dan merusak tatanan hukum militer”.
    Raja dongkol, tapi tidak bisa membantah kebenaran kata-kata Sun Zi. Sun Zi pun dikenal sebagai ahli strategi militer yang hebat di kemudian hari dan berhasil membawa pasukan Raja Wu Helu memenangkan beragam pertempuran.
    Kisah ini sudah sangat populer, dan banyak yang telah membacanya. Akan tetapi, tak banyak yang sungguh-sungguh belajar darinya. Dalam situasi apapun, peraturan harus ditegakkan. Karena peraturan dan hukum adalah tatanan yang mengatur situasi dimana kebebasan seseorang berbenturan dengan kebebasan orang lain. Melaksanakan hal ini tentu sulit, tapi tidak melaksanakan hal ini akan membikin situasi lebih sulit.
    Anda mungkin ingin bertanya: ” Lalu bagaimana bila hukum dan peraturannya tidak benar?”
    Benar sekali, peraturan dan hukum adalah bikinan manusia. Sebagaimana halnya bikinan manusia yang lain, mereka bisa saja cacat, salah atau ketinggalan jaman. Oleh sebab itu peraturan harus jelas dan dapat dipahami oleh mereka yang dikenai peraturan itu. Kewajiabn otoritas untuk memastikan bahwa peraturan itu jelas, relevan, dan dipahami oleh siapapun yang dikenai olehnya. Seperti kata Sun Zi, apabila peraturan tidak jelas dan tidak dapat dipahami, itu adalah tanggungjawab otoritas.
    Dalam pengertian itu pula, peraturan sesungguhnya harus disusun dengan benar dan bisa diperbaiki bila salah atau tidak sesuai. Pada proses menyusun dan memperbaiki inilah, perdebatan dan argumentasi konstruktif diperlukan agar peraturan yang dihasilkan adalah yang terbaik. Namun ketika peraturan telah disepakati, disahkan, dan sudah tersosialisasi denga jelas; maka siapapun harus menepati dan mematuhinya, termasuk sang penyusun peraturan.
    Kewibawaan peraturan tergantung pada sejauh mana peraturan itu jelas, dan sejauh mana peraturan itu ditegakkan dalam praktek. Hal ini juga menentukan kewibawaan sistem dan keseluruhan otoritas. Ini tidak hanya pada militer, tapi juga pada semua konteks organisasi, mulai dari negara hingga keluarga.
    Kini, saatnya kita merefleksikan diri. Sungguh sadarkah kita pentingnya penegakan peraturan dalam keseharian kita? 

No comments:

Post a Comment